Mengenal Alkitab I (Sejarah Umum)

By sigid | June 16, 2008

Gereja Awal dan Alkitab

Yesus dan rasul-Nya sangat akrab dengan Alkitab. Pengetahuan Yesus dalam bidang Kitab Suci diakui oleh bahkan para musuh Nya yang sebagian besar merupakan Ahli Taurat (bdk. Yoh 7:15; Luk 4:22). Para rasul Yesus meski merupakan rakyat biasa dan tidak berpendidikan tinggi namun sangat pandai dalam menjelaskan Kitab Suci dan mengartikannya dalam terang kehidupan Yesus. Seluruh pemberitaan Kabar Baik dilandaskan pada Alkitab dan peristiwa kebangkitan Yesus.

Dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, terdapat kutipan-kutipan langsung maupun tidak langung dari Perjanjian Lama. Hal ini tidak mungkin terjadi apabila para penulis kitab-kitab dalam Perjanjian Baru tidak mengenal secara dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Sebagai catatan, pada masa itu Alkitab belum berbentuk buku seperti sekarang dan tidak terdapat angka-angka pembagian bab dan ayat di dalamnya.

Selama hampir tiga abad pertama, umat Kristen mengenal Kitab Suci baik melaui pembacaan pribadi maupun kotbah para petugas Gereja yang dalam setiap pertemuan ibadat menjelaskan firman Tuhan.

Clement of Alexandria (meninggal th. 215) mencatat bahwa Kitab Suci dibaca menjelang santapan bersama dan ia juga mengajak para suami-istri untuk membaca bersama.

Pada umumnya Kitab Suci dibaca dalam bahasa Yunani. Kemudian mulai abad IV Bahasa Latin menjadi bahasa sehari-hari dalam Kekaisaran Romawi (Eropa Barat) sehingga dalam ibadat Kristen pun bahasa tersebut digunakan sebagai bahasa resmi. Bersamaan dengan munculnya perubahan tersebut, timbul wacana bahwa Alkitab perlu diterjemahkan dalam Bahasa Latin. Terjemahan seperti ini sebenarnya telah ada mulai abad II (lazim disebut sebagai Vetus Itala) namun terjemahan tersebut dirasakan kurang sempurna.

Saint Jerome (Hieronimus) dan Alkitab

Hieronimus (342 – 419) menterjemahkan seluruh Perjanjian Lama dari Bahasa Ibrani serta menyempurnakan seluruh terjemahan Perjanjian Baru yang sudah beredar saat itu di kalangan umat Kristen.

Setelah beliau meninggal dunia, terjemahannya direvisi kembali hingga kemudian menjadi terjemahan Alkitab resmi di seluruh Gereja Kristen Barat. Selama kurang lebih seribu tahun lamanya, Gereja Kristen Barat mempergunakan hanya terjemahan Hieronimus. Terjemahan ini kemudian menjadi dasar untuk terjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa nasional hingga dengan abad XVI. Terjemahan Hieronimus dikenal sebagai Vulgata, yaitu sebagai teks Kitab Suci yang tersebar dan diterima di mana-mana.

Sebuah ucapan Hieronimus yang dikenal hingga sekarang, yaitu “Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi est”. Ucapan ini dikutip dalam Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II (Dei Verbum) yang artinya “Tidak mengenal Kitab Suci sama dengan tidak mengenal Kristus.”

Daftar Resmi Kitab Suci

Dalam kurun waktu abad-abad pertama, umat Kristen dianiaya karena iman yang dianutnya dan Alkitab seringkali menjadi alasan utama orang Kristen dibunuh atau disiksa.

Pada tahun 303, Kaisar Diokletianus memerintahkan untuk memusnahkan seluruh Gereja Kristen serta membakar naskah-naskah Kitab Suci. Hal ini menjadi alasan utama mengapa sejumlah naskah Kitab Suci dari masa awal Gereja Kristen hilang selamanya.

Dalam sidang-sidang Gereja di kota Roma (382), Hippona (393) dan Kartago (397), untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja, para pemimpin menetapkan daftar kitab yangs ecara resmi diakui sebagai Kitab Suci. Daftar tersebut tidak berbeda dengan yang kita miliki sekarang (klik untuk download Alkitab).

Abad XIII, Abad Perkembangan Teologi

Sejarah Gereja mencatat bahwa abad XIII merupakan abad perkembangan luar biasa dalam ilmu teologi Kristen dan salah satu teolog yang terkenal pada masa itu adalah Thomas Aquinas.

Saint Thomas Aquinas (1225 – 1274) merupakan seorang imam Katolik dari Ordo Dominican, seorang warga negara Italia, seorang filsuf, seorang teolog dan dikenal sebagai Doctor Angelicus, Doctor Universalis and Doctor Communis. Thomas Aquinas dianggap sebagai model pengajar bagi pendidikan imam. Karya Aquinas yang paling terkenal adalah Summa Theologica (klik untuk download pdf) dan Summa Contra Gentiles (klik untuk membaca online). Oleh Gereja Katolik, dia dianggap sebagai teolog dan filsuf terhebat sepanjang masa dan banyak institusi pendidikan yang dinamakan dengan namanya.

Pada masa itu, Kitab Suci dipandang sebagai “mahkota ilmu pengetahuan” sehingga dipelajari dengan sungguh-sungguh. Namun ironisnya, Kitab Suci kadang lebih dipakai sebagai sumber argumentasi dan berbagai dalil untuk membenarkan sejumlah gagasan daripada pandangan hidup dan iman Kristen sehari-hari. Alkitab menjadi sebuah sarana yang terus-menerus diapakai oleh ilmuan dan teolog namun semakin tidak dikenal oleh rakyat biasa.

Keadaan ini berlangsung hingga akhir abad pertengahan (abad XV) hingga jurang pemisah antara Kitab Suci dan hidup beriman semakin besar. Bersamaan dengan itu pula, pola hidup kaum rohaniwan semakin merosot. Mereka sering kali memasuki hirarki kekuasaan karena alasan-alasan yang kurang murni, bahkan duniawi dan semakin kurang memperhatikan pendidikan dan pengabdian terhadap umat Kristen. Suara-suara umat yang menghendaki pembaharuan kurang dihiraukan oleh pemimpin Gereja. Hal ini semakin mempercepat timbulnya Reformasi.

Reformasi dan Alkitab

Martin Luther serta pengikutnya menetapkan pemakaian Kitab Suci oleh umat Kristen sebagai prioritas utama. Alkitab adalah wibawa tertinggi serta santapan rohani umat yang utama. Oleh karena itu, Alkitab kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa nasional serta disebarluaskan dengan giat. Dalam perkembangannya, sering terjadi bahwa terjemahan-terjemahan tersebut menjadi sarana untuk menyebarkan pandangan Reformasi.

Oleh karena itu, Konsili Trente (1546) menetapkan bahwa terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa naional hanya boleh dibaca dengan seijin Tahta Suci dan seluruh terjemahan Alkitab harus dilengkapi dengan catatan kaki.

Reformasi senantiasa melancarkan semboyan: “Sola Scriptura” yang artinya “Kitab Suci semata; dalam segala hal menyangkut iman, cukuplah Kitab Suci”. Gereja pada saat itu tidak bereaksi dengan semboyan serupa namun berpegang pada semboyan “Sola Ecclesia” yang artinya “Gereja semata; dalam segala hal menyangkut iman, dengarkanlah Gereja semata”. Gereja kemudian mulai bersikap defensif sehingga semua usaha pembaharuan di bidang Kitab Suci biasanya kandas di tingkat awal.

Perubahan

Situasi mulai berubah pada akhir abad XIX dengan dibentuknya “École Biblique” di kota Yerusalem dan mulailah era baru dalam ilmu penyelidikan Alkitab. École setia kepada tradisi namun di lain pihak juga sangat terbuka terhadap penemuan-penemuan ilmu modern, termasuk ilmu yang dipakai memahami teks-teks kuno.

Pada tahun 1893, Paus Leo XIII membentuk ensiklik “Providentissimus Deus” yang mengakui wibawa Alkitab serta mendukung penyelidikan ilmiah di bidang Alkitab. Kemudian pada tahun 1902, paus Leo XIII membentuk “Komisi Alkitabiah”, sebuah lembaga para ahli tafsir Kitab Suci Katolik yang bertugas mendorong dan membimbing studi di bidang Alkitab. Pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1909 di kota Roma didirikan “Institut Biblis” yang berfungsi sampai sekarang.

Pada masa diantara perang dunia, ilmu tafsir Kitab Suci berkembang pesat terutama di kalangan Protestan. Gereja Katolik kemudian mengambil manfaat semua penemuan baru tersebut dengan mempertimbangkan keyakinan para ahli tafsir Katolik tentang perlunya tetap memperhatian suara tradisi serta wewenang pimpinan Gereja dalam hal ikhwan iman.

Banyak perubahan positif juga terjadi berkat munculnya “Gerakan Ekumene” yang mengandalkan Alkitab sebagai salah satu sarana utama dalam mewujudkan persatuan di kalangan umat Kristen. Sejak Konsili Vatikan II (1962-1965), Gereja Katolik bekerja sama dalam menterjemahkan dan menerbitkan Alkitab.

Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II yang dihadiri oleh kurang lebih 2500 uskup dari seluruh dunia bisa dianggap sebagai pemberi dorongan utama dalam pembaharuan Gereja Katolik di bidang Kitab Suci.

Konsili Suci mendesak dengan amat sangat dan secara istimewa, agar semua orang beriman (…) seringkali membaca kitab-kitab ilahi dan memperoleh “keunggulan pengetahuan Yesus Kristus”. Sebab tidak mengenal Alkitab berarti tidak mengenal Kristus. Maka hendaknya mereka dengan suka menghadap Alkitab sendiri (Dei Verbum, no. 25)

Tetapi hendaklah mereka ingat, bahwa doa harus menyertai Alkitab, supaya terjadi wawancara antara allah dan manusia; sebab kita berbicara dengan Allah bila berdoa, kita mendengarkan Dia bila membaca firman ilahi (Dei Verbum, no. 25)

Sebagaimana hidup Gereja berkembang, karena tetap ikut serta dengan rahasia Ekaristi, begitu pula boleh diharapkan rangsangan baru karena bertambahnya penghargaan bagi firman Allah (Dei Verbum, no. 26)

Bersambung …… :mrgreen:

Referensi:
Stefan Leks, 1983, Tumbuh Dalam Iman Berkat Alkitab, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta
Referensi online diambil dari New Advent 1, 2, 3, 4, Bible Database, dan Wikipedia.

6 Comments

  • By teguh, July 4, 2008 @ 12:58 am

    shalom.

    artikel yang bagus..
    terus menulis yaa..
    God bless you abundantly,… :)

    teguh
    tegoeh’s blog

  • By sigid, July 4, 2008 @ 7:52 am

    Terima kasih mas Teguh sudah mampir … :D

  • By teguh, July 13, 2008 @ 10:06 pm

    mampir lagi ah….:D

    oh ya blog ini yg masuk di-reader-ku

    GBU

  • By sigid, July 31, 2008 @ 2:05 pm

    Monggo mas Teguh :mrgreen:

  • By sukardi manullang, June 11, 2009 @ 10:31 am

    makasih yach… artikelnya bagus.
    trus tingkatkan yach…
    horas

  • By Büyü, July 21, 2010 @ 6:43 pm

    makasih yach… artikelnya bagus.
    trus tingkatkan yach…
    horas

Links to this Post

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

Anti-Spam Protection by WP-SpamFree

WordPress Themes